TEMPO.CO, Tokyo - Menteri Pertahanan Amerika Serikat Chuck Hagel mengumumkan rencana mengirimkan dua kapal perang penghancur rudal balistik tambahan ke Jepang untuk menghadapi ancaman Korea Utara, Minggu, 6 April 2014.
Rencana pengiriman dua kapal perang itu menanggapi ketegangan akibat uji coba rudal dan serangkaian roket Korea Utara. Aksi Pyongyang itu dilakukan sebagai protes atas latihan militer tahunan antara Seoul dan Washington. Korea Utara menuding latihan militer itu adalah upaya invasi. (Baca juga: Militer Jepang Siap Hancurkan Rudal Korea Utara).
Akhir Maret lalu, Pyongyang meluncurkan dua rudal balistik jarak menengah ke laut Jepang. Dua rudal diluncurkan dari suatu wilayah di Korea Utara dan meluncur sekitar 260 kilometer atau 400 mil ke laut Jepang. Rudal-rudal itu diyakini berjenis Rodongyang jangkauannya dianggap menengah dengan jangkauan maksimum antara 1.000 dan 1.500 kilometer.
Hagel juga memperingatkan Cina untuk menghormati para tetangganya. Dia mengambil contoh kasus pengambilalihan wilayah Crimea dari Ukraina oleh Rusia, yang kemudian disandingkan dengan sengketa teritorial kepulauan kecil di Laut Cina Timur antara Cina, Jepang, dan negara-negara lain. (Baca juga: AS Ingatkan Cina Tak Tiru Aneksasi Gaya Rusia).
"Menurut saya kita melihat beberapa bukti yang jelas tentang kurangnya rasa hormat dan intimasi di Eropa saat ini seperti yang telah dilakukan Rusia terhadap Ukraina," kata Hagel kepada wartawan setelah pertemuan dengan Menteri Pertahanan Jepang Itsunori Onodera, seperti dikutip CBS News dari Associated Press, Senin, 7 April 2014.
Dia menambahkan bahwa setiap negara harus berhati-hati dalam menanggapi permasalahan batas wilayah kekuasaan dan tak bisa menggunakan cara-cara paksaan atau intimidasi. "Anda tidak bisa pergi ke seluruh dunia, mendefinisikan batas-batas, dan melanggar integritas teritorial serta kedaulatan negara lain dengan kekerasan, apakah itu di pulau-pulau kecil di Pasifik atau di negara-negara besar di Eropa."
Hagel akan melakukan perjalanan ke Cina akhir pekan ini. Cina disebut-sebut sebagai negara Asia "dengan kekuatan besar". Menurut Hagel, dengan kekuatan itulah maka datang tanggung jawab baru dan lebih luas. "Tanggung jawab tentang bagaimana Anda menggunakan kekuatannya dan bagaimana Anda menggunakan kekuatan militer," ujarnya.
Dalam kunjungannya ke Cina nanti, dia akan membahas tentang pentingnya memiliki rasa hormat terhadap negara tetangga. Dia juga akan menekankan suatu pemaksaan atau intimidasi adalah hal yang dapat mengarah pada konflik. "Semua bangsa, semua orang layak mendapat penghormatan, tidak peduli seberapa besar atau seberapa kecil," katanya.
Namun, lanjutnya, pihaknya juga berharap bisa berdialog langsung dengan Cina untuk membicarakan hubungan kerja sama militer kedua negara.
CBS NEWS | ROSALINA
Berita lainnya:
Kiai Maman, Caleg Pembela Ahmadiyah
Cara Atasi Gugup Bicara di Depan Umum
Caleg Binny Bintarti Bersaing dengan Ibas SBY
Tidak ada komentar:
Posting Komentar