TEMPO.CO, Caracas - Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengumumkan akan mengusir tiga pejabat konsuler Amerika Serikat yang tidak disebutkan namanya. Ketiga diplomat itu dituduh bertemu dengan mahasiswa untuk mengorganisasikan protes anti-pemerintah pada Ahad, 16 Februari 2014 waktu setempat.
Pemerintah Venezuela kebingungan menghadapi gerakan protes yang dipelopori mahasiswa dan oposisi. Gerakan yang meluas di beberapa wilayah ini memuncak ketika tiga orang tewas dan puluhan orang luka-luka dalam demonstrasi pada Rabu, 12 Februari 2014.
Kantor presiden di Caracas menuduh Amerika Serikat sedang berusaha mempromosikan dan melegitimasi upaya untuk mengacaukan demokrasi negara itu. Kementerian Luar Negeri Venezuela menyatakan pemerintah Presiden Nicolas Maduro itu tegas menolak pernyataan Menteri Luar Negeri AS John Kerry yang memprotes kekerasan itu. "Tidak seharusnya mengerahkan pengaruh di Caracas," demikian penyataan itu, Ahad, 16 Februari 2014.
Tudingan kepada Amerika Serikat memang bukan tanpa alasan. Amerika berulang kali berusaha menggulingkan pemerintahan kelompok kiri dari Venezuela. Pada 2002, Negara Abang Sam ini juga berusaha menggulingkan Hugo Chavez dengan gerakan serupa selama dua hari. Namun upaya itu gagal.
Kerry mengkritik kekerasan yang dilakukan pemerintah tidak masuk akal. Menurut dia, cara menghadapi para pengunjuk rasa terlalu berlebihan, apalagi dengan menahan demonstran.
Protes terhadap Maduro dilakukan menyusul inflasi yang berlebihan dan kekurangan barang pokok. Kerry mengatakan prihatin terutama pada surat perintah penangkapan yang dikeluarkan untuk pemimpin oposisi Leopoldo Lopez. "Tindakan ini berdampak buruk pada hak warga negara untuk mengekspresikan keluhan mereka secara damai," kata diplomat tertinggi AS dalam sebuah pernyataan di Caracas.
CHANNEL NEWS ASIA | EKO ARI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar